Mimpi Terbesarku dalam Hidup : Punya Anak Laki-laki

Sebagian foto selfie bareng anak orang lain 6 tahun terakhir yang terangkum dalam album facebook saya, judul album yang sama " Baby, dont cry, i hug, i kiss, and i bite.."

Sebagian foto selfie bareng anak orang lain selama 6 tahun terakhir yang terangkum dalam album facebook saya, judul album yang sama ” Baby, dont cry, i hug, i kiss, and i bite..”

Dari judulnya tampak bahwa saya ini adalah wanita yang kurang memiliki tujuan hidup dan naif ya? Tidak seperti kebanyakan orang yang di masa kecilnya bermimpi taktis seperti ingin jadi dokter, pilot, insinyur, bahkan presiden (?!?). Saya malah sejak SD ingin punya bayi laki-laki. Di masa kecil, saya sering menghabiskan waktu dengan bayi dan balita orang lain. Menggendong mereka serasa memiliki anak sendiri meski hanya sesaat. Saat musim smartphone menjamur dan saya memilikinya, saya selalu menyempatkan diri berselfie ria dengan mereka. Selalu mengabadikan mimpi saya dalam foto. Berharap suatu saat anak yang didalam foto selfie saya adalah anak saya sendiri.

Saat berumur 10 tahun, saya meminta kepada ibu seorang adik bayi lagi. Padahal saat itu saya sudah memiliki seorang adik perempuan yang berjarak hanya 3 tahun dari saya. Tapi, saya menuntut lebih. Saya ingin bayi. Terutama bayi laki-laki. Ibu yang sangat baik hati mengabulkan rengekan saya yang semakin hari semakin menjadi. Ibu hamil. Dan janinnya laki-laki. Tapi Tuhan berkehendak lain, kandungannya gugur di usia 2 bulan. Saya hampir tidak dapat mengingat sebabnya karena apa. Mungkin karena saya begitu kecewa dan marah sehingga segera ingin menghapus kenangan buruk itu. Bermalam-malam saya menangis di atas ranjang bayi yang kami beli. Umur sepuluh tahun, meraung-raung di box bayi karena gagal mendapat adik. Rasanya sekarang saya ingin tertawa geli.

Ibu yang tidak ingin mengecewakan saya, hamil kembali untuk yang kedua kali, bahkan di usianya yang sudah lumayan lelah. Kali ini Ibu sempat nyaris dikuret lagi karena lalai makan durian satu kepala. Ia tidak tahu bahwa durian yang sifatnya panas bisa berbahaya untuk bayinya. Tapi Tuhan masih mengasihani saya ibu saya. Bayinya selamat. Perempuan. Saya sangat bahagia. Terimakasih Ibu. Terimakasih Tuhan.

Di umur yang ke-24, Tuhan menjodohkan saya dengan pria yang kemudian menjadi Smartfren saya. Saya bersikeras menikah di usia 28 tahun. Saya baru lulus sarjana dengan gelar Cum Laude. Saya butuh berkarir dulu. Tapi mimpi ingin punya anak laki-laki itu datang lagi. Lamaran diterima. Satu tahun kemudian kami menikah. Sebelum menikah saya mengajukan Premarital Check-up untuk kami berdua. Bila hasilnya buruk, mungkin saya akan batal nikah. Syukurlah hasilnya bagus.🙂

4 bulan pertama dalam pernikahan kami menjadi saat yang paling membahagiakan sekaligus mendebarkan. Saya tidak berniat menunggu. Saya ingin hamil. Segera. Titik. Satu bulan berjalan, dua bulan… saya memeriksakan diri ke dokter kandungan. Terbilang dini, tapi saya tidak sabar. Berita mengejutkan, saya divonis memiliki kista yang menghambat saya untuk hamil. Bagai tersambar petir. Belum 6 bulan kami screening premarital, rahim saya dinyatakan bersih. Tapi mengapa sekarang tiba-tiba ada kista? Sempat ada rasa marah. Saya menghabiskan hari saya dengan bayi orang lain sejak kecil, setelah dewasa saya tidak bisa punya anak sendiri. Disitu kadang saya merasa sedih. #BukanMeme. Sekali lagi, Tuhan sedang menguji umatNya. Buah kandungan adalah suatu Upah. Saya harus terus percaya pada waktuNya.

Doa terus saya panjatkan. Bulan depannya, jadwal kontrol lagi ke obgyn. Saya sangat terkejut karena beliau tidak menemukan kista apapun. Tidak percaya begitu saja, saya mencari second opinion. Dokter kedua bilang, rahim saya bersih, tidak ada apapun. Tuhan sungguh Pemurah teman-teman…:)

Memasuki bulan ketiga saya tidak kunjung hamil. Kami pun mengunjungi seorang dokter kandungan spesialis infertilitas di kota kami. Dari hasil USG diketahui saya mengidap PCOs. Kelainan pada rahim dimana sel telur saya kecil-kecil sehingga sulit dibuahi. Harapan yang berkembang pun layu seketika. Suami yang sangat sabar terus membesarkan hati ini agar tidak menyerah. Selalu ada jalan. Selalu ada mujizat. Dukungan dari orangtua dan teman-teman terus mengalir. Meski tidak banyak yang tahu, hanya yang terdekat saja.

Di bulan yang sama, kami sempat honeymoon ke China yang Shinshenya  terkenal pandai meramu obat. Tapi kami pulang ke Indonesia dengan harapan yang semu-semu getir. Sepertinya kami dibohongi oleh Sinshe tersebut, masa sih hanya dengan memegang nadi saya saja, sinshe tersebut memastikan bahwa rahim saya dingin. Suami saya lebih parah,  darahnya diangggap tidak lancar hanya karena beliau melihat wajah suami saya jerawatan. Hihiihi…tapi kami termakan juga oleh nasihat sinshe. Sejumlah paket obat yang tidak murah kami bawa pulang. Meski tidak kami makan sampai habis karena ragu.

Obgyn saya menasihati agar memulai pola hidup sehat, tanpa vetsin, tidak mengonsumsi ayam broiler, mengurangi gorengan, serta banyak makan sayuran dan buah. Saran lainnya adalah berolahraga secara rutin. Beliau juga memberi vitamin. Saya lelah menanti selama 3 bulan. Rasanya seperti 30 tahun. Jadi kali ini, tidak ada salahnya patuh. Saya mulai belajar memasak. Bila berpergian pasti bawa bekal masakan sendiri. Fitness dan lari jadi konsumsi sehari-hari. Intens, seperti atlit. Sashimi adalah menu favorit saya selama sebulan itu, karena makanan ini tanpa diproses. Saya pikir sashimi adalah makanan paling ideal saat itu. Tuna dan salmon mentah yang menggelikan dan menjijikkan tadinya, dengan mudahnya berkawan karib dengan saya. Semua demi mimpi…

Hari itupun tiba, selang sebulan setelah saya mematuhi dokter dan berdoa tangisan malam hari yang tak pernah putus, saya membeli testpack. Saya terlambat datang bulan 2 hari. Feeling saya begitu kuat. Di kamar mandi malam itu, terjadilah “dua garis merah”. Bukan sekali saya menggunakan testpack. Sejak menikah saya akrab dengan barang ini. Saya tidak mudah percaya. Besoknya saya coba lagi. Dan hasilnya sama. Thank you GOD…Terima kasih sudah membuatku mampu bertahan dalam ujianMu.

Sembilan bulan kemudian, bayi laki-laki kecilku lahir ke dunia melalui operasi Caesar. Seperti doa yang selalu saya panjatkan selama mengandungnya, ia akan mewarisi semua yang terbaik dari ayah dan ibunya. Semua yang baik saja. Kesabaran ayahnya, keteguhan ibunya. Kebaikan hati ayahnya, kelembutan ibunya. Semoga anak laki-laki yang menjadi mimpi saya sebagai ibunya, bisa menjadi generasi impian negri ini. Semoga ia bisa menjadi seorang Smartfren untuk sesamanya. Semoga ia menjadi kesukaan Tuhan…

Kini, tidak perlu menunggu kemunculan bayi, balita, dan anak orang lain. Saya bisa menggendong anak saya sendiri. Selama tahun pertama, saya mengumpulkan ribuan foto selfie dengannya. Anak laki-laki pertama, mimpi terindah, hasrat terbesarku…
Di bawah ini salah satunya, meski sekarang sudah sulit memesrainya semudah ini.🙂

Mimpiku, Hasrat Terbesarku

Mimpiku, Hasrat Terbesarku…

Postingan ini diikutsertakan dalam

banner

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

14 thoughts on “Mimpi Terbesarku dalam Hidup : Punya Anak Laki-laki

  1. Penuh perjuangan ya mbak, dan alhamdulillah mimpinya kesampaian dpt bayi laki laki…selamat ya mbak. Slm kenal n sukses lombanya yak🙂

  2. Iya mbak inda, semua orang rasa2nya punya perjuangannya masing2 ya, kalo saya berjuangnya klise, punya anak laki hehe..terimakasih untuk doanya, salam kenal juga🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s